Tampilkan postingan dengan label HIKMAH PAGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIKMAH PAGI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2013

Syirik Asghar (Syirik Kecil)



http://4.bp.blogspot.com/-rLTU5d60ujQ/TwhTYLb71JI/AAAAAAAAA0c/M3YiTAppAEc/s1600/riak.jpgAl-Imam adz-Dzahabi di dalam kitab al-Kabair menyebutkan beberapa fenomena dan bentuk syirik ashghar (syirik kecil), di antaranya yaitu:



1.Riya' Dalam Beribadah

Barang siapa yang melakukan ibadah atau qurbah (amalan untuk mendekatkan diri kepada ALLAH ), namun bertujuan untuk ALLAH dan agar dilihat atau dipuji manusia maka dia telah melakukan syirik ashghar. Sehingga amalan yang dia kerjakan sia-sia dan ditolak. Dalil yang menjelaskan hal itu adalah sebuah hadits qudsi dari dari Rasulullah, bahwa ALLAH berfirman, artinya, "Aku tidak membutuhkan sekutu-sekutu, barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan di dalamnya menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya." (HR Muslim)



2.Bersumpah dengan Selain ALLAH

Di antara bentuk syirik ashghar yang banyak terjadi di masyarkat adalah bersumpah dengan selain ALLAH. Rasulullah telah bersabda,

"Barang siapa yang bersumpah dengan selain ALLAH maka dia telah menyekutukan ALLAH." (HR. Ahmad, shahihul jami' no.6204)


Beliau juga telah bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya ALLAH telah melarang kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian. Barang siapa bersumpah maka hendaknya dia bersumpah dengan nama ALLAH atau (kalau tidak) hendaknya dia diam." (HR. al-Bukhari, al-Fath 11/530)


Maka tidak dibolehkan seorang muslim bersumpah dengan menyebut selain ALLAH meskipun tidak bertujuan untuk mengagungkan makhluk dengan sumpah itu. Dan walaupun yang digunakan untuk bersumpah adalah seorang nabi atau orang shalih. Sebagaimana tidak boleh bersumpah dengan menyebut Ka'bah, dengan amanat, kemuliaan, kehidupan fulan, nabi, wali, tidak boleh pula bersumpah dengan nama bapak, ibu, anak, dengan barakahnya si fulan dan kedudukannya. Semua ini hukumnya haram, karena bersumpah hanya dibolehkan dengan menyebut ALLAH, nama-nama dan sifat-sifat-NYA.


Barang siapa yang terlanjur mengucapkan sumpah yang diharamkan tersebut maka hendaknya dia mengucapkan la ilaha illallah kemudian beristighfar dan tidak mengulangi perbuatan semisal itu. Nabi telah bersabda, "Barang siapa yang bersumpah dan dia berkata di dalam sumpahnya tersebut dengan menyebut Latta dan Uzza maka hendaknya dia mengucapkan la ilaha illallah." (HR al-Bukhari di dalam al-Fath 11/546)


Di samping itu ada beberapa kalimat yang mengandung kesyirikan dan sering diucapkan oleh banyak orang, seperti; Aku bertawakkal (bersandar) kepada ALLAH dan kepadamu; Aku tidak kuasa apa-apa kalau tidak karena ALLAH dan karenamu; Kalau saja bukan karena ALLAH dan karenamu; Ini dari ALLAH dan darimu atau lafal-lafal lain yang semakna dengan ini. Rasulullah telah bersabda, "Janganlah kalian mengucapkan, "Atas kehedak ALLAH dan kehendak fulan" akan tetapi ucapkanlah, "Atas kehendak ALLAH kemudian kehendak fulan." (HR Abu Dawud, dalam silsilah shahihah, 137)


Demikian juga kalimat-kalimat yang berisi celaan terhadap masa (waktu) seperti; ALLAH melaknat zaman yang kelam ini; Ini waktu atau hari pembawa sial dan yang semisalnya. Karena mencela masa adalah sama dengan mencela ALLAH yang telah menciptakan masa tersebut. Nabi bersabda, ALLAH berfirman, artinya, "Anak Adam mencela masa, padahal Akulah Masa itu, di tangan-Ku siang dan malam." (HR. al-Bukhari)


Masuk dalam kategori lafal-lafal yang diharamkan adalah memberikan nama dengan segala sesuatu yang diperhambakan kepada selain ALLAH , seperti Abdul Husain, Abdul Masih, Abdur Rasul, Abdun Nabi dan lain sebagainya.


3. Tathayyur

Yaitu merasa sial karena melihat sesuatu. Tathayyur diambil dari kata thiyarah berasal dari ath-Thair yakni burung. Awal mulanya adalah bahwa dulu orang Arab apabila akan melakukan sesuatu seperti bepergian atau lainnya, maka dia melepaskan burung, kalau burung tersebut terbang ke arah kanan maka dia melanjutkan keinginannya, dan kalau terbangnya ke arah kiri maka dia merasa sial dan mengurungkan keinginannya. Rasulullah telah menjelaskan tentang tathayyur ini dalam sabdanya, "Thiyarah adalah syirik." (HR. Ahmad, Shahihul Jami' 3955)


Dalam sabdanya yang lain disebutkan, "Bukan termasuk golongan kami orang yang melakukan thiyaroh atau diminta untuk berthiyarah, juga orang yang melakukan perdukunan dan minta didukunkan." (HR. ath-Thabrani, silsilah hadits shahihah, 2195)


Masuk ke dalam kategori keyakinan yang merusak kemurnian tauhid adalah merasa sial dengan bulan Shafar, merasa sial dengan hari Jum'at tanggal tiga belas atau dengan angka tiga belas. Ini semua hukumnya haram dan termasuk dalam syirik ashghar.


Obat dari penyakit ini adalah dengan betawakkal sepenuhnya kepada ALLAH. Ibnu Mas’ud radhiyALLAHu ‘anhu berkata, “Thiyarah adalah syirik, dan tidak ada di antara kita kecuali terkadang pada dirinya terlintas sedikit dari tasya’um (rasa sial) ini, akan tetapi ALLAH menghilangkannya dengan sikap tawakkal.” (riwayat Abu Dawud dan al-Bukhari di dalam al-Adabul Mufrad)


4.Meninggalkan Shalat Karena Malas

Sedangkan jika meninggalkannya karena juhud (mengingkari) atas wajibnya shalat tersebut atau beristihza' (mengolok-olok) maka dia kafir keluar dari Islam menurut ijma'. Adapun jika meninggalkannya karena malas atau menganggap enteng maka dia telah melakukan dosa besar yang sangat besar, berdasarkan sabda Nabi, "Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat, maka barang siapa yang meninggalkannya dia telah kafir." (HR Ahmad, shahihul jami', 4143)


“Antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah bila dia meninggalkan shalat." (HR. Muslim)


Dan menurut sebagian ulama, meninggalkan shalat hukumnya adalah kufur akbar berdasarkan dalil di atas dan dalil-dalil yang lainnya meskipun meninggalkannya karena malas dan menganggap enteng. Terlepas dari dua pendapat yang ada, meninggalkan shalat adalah sesuatu yang sangat berbahaya.


Catatan: Pendapat yang lebih kuat yaitu bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas adalah kafir, wallahu a’lam.


5.Jimat dan Sejenisnya

Termasuk syirik adalah berkeyakinan bahwa manfaat atau kesembuhan dapat diperoleh dari benda-benda yang tidak pernah dijadikan oleh ALLAH sebagai sebab untuk mendapatkannya. Seperti keyakinan sebagian orang terhadap jimat-jimat, benda pusaka, tuah, logam-logam tertentu, rajah-rajah syirik yang diberikan dan ditulis oleh para dukun dan tukang sihir. Juga keyakinan terhadap benda peninggalan atau warisan orang tua, kakek, lalu digantungkan di leher anak-anak, istri atau ditaruh di kendaraan, di dalam rumah agar dapat menolak bala', sihir serta memberikan manfaat dan menjadi pagar pelindung.


Semua ini tidak diragukan lagi akan menafikan tawakkal kepada ALLAH. Dan benda-benda itu tidak memberikan manfaat apa-apa kepada manusia. Jika seseorang berkeyakinan bahwa benda-benda tersebut memberikan manfaat, selain ALLAH maka dia telah musyrik. Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang menggantungkan jimat maka dia telah syirik." (HR. Ahmad, silsilah hadits shahihah 492)


Orang yang melakukan itu semua adalah musyrik dengan kemusyrikan yang besar jika dia berkeyakinan bahwa benda-benda tersebut memang memberikan manfaat atau dapat memberikan madharat selain ALLAH. Adapun jika berkeyakinan bahwa benda tersebut hanya merupakan sebab kemanfaatan dan kemadharatan padahal ALLAH tidak menjadikannya sebagai sebab untuk mendapatkannya maka dia terjerumus dalam syirik ashghar. Kita berlindung kepada ALLAH dari semua itu.




Sumber: Mukhtashar Kitab al-Kabair, Imam adz-Dzahabi, muraja’ah dan taqdim Dr. Abdur Rahman ash Shalih al-Mahmud.


www.alsofwah.or.id



Read more > Syirik Asghar (Syirik Kecil)

Selasa, 23 April 2013

Bicara Yang Baik Atau Lebih Baik Diam




“Barangsiapa beriman kepada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim)

http://3bidadari.files.wordpress.com/2010/05/bicara-yang-baik-atau-diam1.jpgBetapa dahsyatnya ucapan. Ia bisa menjadi motifasi, yang dengannya bisa mengobarkan semangat dan menggugah kesadaran, menggerakkan perorangan atau bahkan ribuan orang untuk melakukan kebajikan. Pada saat lain, juga bisa menjadi penghasut yang menjadikan kecendrungan sikap dan membangkitkan emosi sehingga seorang pribadi atau kelompok tergerak untuk bersikap dan berbuat kerusakan.
Ucapan, ketika menemukan bahasanya yang tepat adalah jembatan antar perasaan yang mampu menyatukan jiwa-jiwa dalam satu nuansa keselarasan; kompak dalam nasib dan penanggungan. Ucapan, ketika ditujukan untuk kebaikan dan mendapatkan kalimat yang baik serta suasana yang pas, bisa menjadi nilai yang besar manfaat bagi yang melafazhkan maupun yang mendengarkan. Sebaliknya, ketika keliru yang dituju dan serampangan dalam mengartikulasikan, bisa mengakibatkan malapetaka dan kerusakan.
Ucapan, ternyata tak semudah asal menggerakkan lidah. Tidak boleh asal fasih, apalagi sekedar mengandalkan kerasnya teriakan. Padanya ada konsekwensi, yang karenanya harus dijaga dengan hati-hati. Karena itu, Islam memberikan aturannya.

Ada Tanggung Jawabnya

Setiap aspek harus dipertanggungjawabkan, karena itu tidak diperbolehkan menjalani hidup secara sembarangan. Konsekwensi pertama dari perkara itu adalah diwajibkannya mengilmui segala sesuatu yang hendak dilakukannya; baik itu perkataan atau perbuatan. ALLAH berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)
Demikian juga dengan bicara, ALLAH juga telah mewajibkan seseorang untuk menetapi aturan yang telah ditetapkannya. Firman ALLAH, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada ALLAH dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya ALLAH memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati ALLAH dan Rasul-NYA, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)
Dari Sahl bin Sa’ad, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara kumis dan jenggotnya, serta yang ada di antara kedua kakinya niscaya aku akan menjamin surga buatnya.” (HR. Bukhari –Muslim)
Dengan berkata yang benar, maka berarti ia telah melaksanakan ketaatan terhadap perintah ALLAH dan Rasul-Nya, yang berakibat diperbaiki amal dan dijamin dengan surga.
Sebesar-besar Dusta
Sebesar-besar dusta adalah apabila seseorang berkata tentang ALLAH dan Rasul-NYA tanpa dasar yang benar. diantara bentuknya adalah mengatakan sesuatu tentang Al-Qur’an dan Sunnah tanpa pengetahuan yang pasti, menafsirkan sesuka hati berdasarkan akalnya saja, serta memalsukan hadits-hadits Nabi SAW. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berbicara tentang Al-Qur’an dengan akalnya atau tidak dengan ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”(HR. Tarmidzi)
Demikian pula sabda Nabi SAW, “Barangsiapa yang mengatakan atas nama (ku) apa-apa yang tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari)

Pantangan Dalam Berbicara

Banyak jenis kesalahan dalam berbicara. Mngenai apa, bagaimana, kepada siapa dan kapan saatnya. Ucapan yang menimbulkan mudharat bagi dirinya sendiri ataupun orang lain adalah bicara yang dilarang. Jenisnya bisa hasutan, ungkapan kedengkian, mengungkap aib orang, penghinaan, caci maki, mengeluh atau ungkapan tidak senonoh lainnya.
Ada lagi ucapan yang sis-sia karena memang tidak ada manfaat dan juga tidak jelas manfaatnya. Jika pada orang yang berucap dengan perkataan batil akan ditimpakan kebinasaan, maka orang yang berbicara sesuatu yang sia-sia cukup baginya kerugian yang sulit dicarikan gantinya.
Dari Abu Hurairah diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan suatu kalimat yang tidak benar, hal itu akan menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (HR. Bukhari-Muslim)
Dalam kitab Riyadhus Shalihin disebutkan bahwa Imam Nawawi mengatakan, “Hadits ini teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraan yang baik, yaitu pembicaraan yang sudah jelas mashlahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap mashlahatnya, janganlah ia bicara.”
Masih dalam kitab yang sama, Imam Nawawi juga mengatakan, “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat , seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang sudah jelas mashlahatnya. Bila keadaan berbicara dan diam sama mashlahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”
Dalam kitab Al-Adzkar dicantumkan bahwa Imam Syafi’i mengatakan, “Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas mashlahatnya maka berbicaralah, dan jika ia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak mashlahatnya.”
Selain itu, banyak bicara adalah satu pantangan. Meski tidak bicara yang salah, namun banyak bicara bisa menyeret seseorang pada ucapan yang dilarang, memancingnya untuk berbicara dari yang mubah kepada yang haram. Rasulullah SAW bersabda, “Cukup bohong seseoang manakala dia membicarakan setiap apa yang dia dengar.” (HR. Muslim)
setelah mengetahui tanggung jawab dan resiko dalam berbicara, maka hanya ada dua pilihan, yaitu bicara yang baik atau lebih baik diam.
Seperti yang disebutkan dalam hadits Nabi SAW, “Barangsiapa beriman kepada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim) Di luar itu tidak ada pilihan lainnya. Karena siapapun yang ingin berbicara hendaknya menimbang dahulu secara matang. Itulah kebiasaan orang-orang berakal.
Abu Hatim mengatakan, “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dahulu, jika terdapat (mashlahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (mashlahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada diujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”
Jika memang tak perlu, jangan dipaksakan. Lebih baik diam. Inilah yang disebut “diam itu emas”. Abu Darda’ berkata, “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang; yaitu orang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”
Namun lain halnya, jika berbicara adalah suatu keharusan, maka seseorang tidak boleh diam. Dia harus berbicara, meski pahit akibatnya dan berat konsekwensinya. Diam pada saat yang demikian adalah suatu pengkhianatan atas amanah dakwah dan kebenaran. Karena itu ALLAH menyanjung orang yang berbicara di atas jalan-NYA. ALLAH berfirman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada ALLAH, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Al-Fushilat: 33)




 

Sumber: Ar-Risalah Edisi 59 tahun 2006


Read more > Bicara Yang Baik Atau Lebih Baik Diam

Rabu, 17 April 2013

Hikmah Pagi : Jangan Pernah Meremehkan Orang Lain

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLWoyoadTId92E7WSAE-K0ds1iHIR5vy_9Ef8elscRg9lA6SI5up5Nnade_uQk1MqkC26DLaijPug39_aKjtmqx7ygkQ0lQ2USs8aTJLzRdivkGQ6HfScSCOdolym_13U_3iVCSjpkL05u/s1600/Jangan+Pernah+Meremehkan+Orang+Lain.jpgPada suatu hari, seorang anak masuk ke dalam rumah makan yang sangat terkenal dan mahal. Dia masuk seorang diri dan memakai pakaian biasa saja, tidak seperti anak-anak lain yang memakai pakaian yang bagus. Anak itu duduk di salah satu kursi lalu mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan.


Dilansir unikaneh, Seorang pelayan perempuan menghampiri anak kecil itu lalu memberikan buku menu makanan. Pelayan tersebut agak heran mengapa anak kecil itu berani masuk ke dalam rumah makan yang mahal, padahal dari penampilannya, pelayan itu tidak yakin bahwa sang anak kecil mampu membayar makanan yang ada.


“Berapa harga es krim yang diberi saus strawberry dan cokelat?” tanya sang anak kecil.

Sang pelayan menjawab, “Lima puluh ribu,”

Anak kecil itu memasukkan tangan ke dalam saku celana lalu mengambil beberapa receh dan menghitungnya. Lalu dia kembali bertanya, “Kalau es krim yang tidak diberi saus strawberry dan cokelat?”

Si pelayan mengerutkan kening, “Dua puluh ribu,”

Sekali lagi anak kecil itu mengambil receh dari dalam saku celananya lalu menghitung. “Kalau aku pesan separuh es krim tanpa saus strawberry dan cokelat berapa?”


Kesal dengan kelakuan pembeli kecil itu, pelayan menjawab dengan ketus, “Sepuluh ribu!”

Sang anak lalu tersenyum, “Baiklah aku pesan itu saja, terima kasih!”


Pelayan itu mencatat pesanan lalu menyerahkan pada bagian dapur lalu kembali membawa es krim pesanan. Anak itu tampak gembira dan menikmati es krim yang hanya separuh dengan suka cita. Dia melahap es krim sampai habis. Kemudian sang pelayan kembali datang memberikan nota pembayaran.


“Semua sepuluh ribu bukan?” tanya anak itu lalu membayar es krim pesanannya dengan setumpuk uang receh. Wajah sang pelayan tampak masam karena harus menghitung ulang receh-receh itu. Lalu sang anak mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari saku celana belakangnya, “dan ini tips untuk Anda!” ujar sang anak sambil menyerahkan selembar uang tersebut untuk si pelayan”.

Ada kalanya kita hanya melihat apa yang melekat pada tubuh seseorang saja sebagai penilaian. Bukan hal yang bagus untuk meremehkan seseorang karena melihat penilaian dari luar. Anda tidak akan pernah tahu pada beberapa waktu yang akan datang, seseorang yang Anda remehkan bisa jadi merupakan pengantar rejeki yang tak terduga.

sumber : http://www.beritaunik.net



Read more > Hikmah Pagi : Jangan Pernah Meremehkan Orang Lain

Selasa, 09 April 2013

Berhenti Mengeluh : Mulai Bersyukur

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgaf34-IyFYiuo_YwG_nXAqAAa8S8ce1t9sXR4Zq_hK3aA9bAwFapc9TdhFjObUKzKYCdcigIAxldE2Ztc4mvKsHS1qFQIK_erwle2m_UYWblTALqXCz3srOduNq8Swtz0n63k2dAP2tfcP/s1600/mengeluh2.jpg

Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini telah menjadi suatu kebiasaan. Kalau Anda termasuk orang yang suka mengeluh maka ketahuilah bahwa kebiasaan mengeluh tidak akan membuat situasi yang Anda hadapi menjadi lebih baik, malahan hanya akan menguras energi Anda dan menciptakan perasaan negatif yang tidak memberdayakan diri Anda.
Coba tanyakan diri Anda apabila seandainya, Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu mengucapkan kata-kata positif dan yang kedua selalu mengeluh, Anda akan lebih senang berhubungan dengan yang mana? Saya yakin jawaban Anda adalah teman yang pertama, karena pada dasarnya semua orang senang berhubungan dengan orang-orang positif yang kata-katanya membangun, menghibur, menguatkan.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita sering mengeluh? Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan atau keinginan kita. Dan Anda perlu sadari bahwa hal ini akan terjadi hampir setiap hari dalam kehidupan yaitu kenyataan yang terjadi seringkali tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Jadi cara mengatasinya sebenarnya mudah kita hanya perlu belajar bersyukur dalam segala keadaan yang kita hadapi.
Sebagai contoh, jika Anda sering mengeluh dengan pekerjaan Anda, Anda perlu tahu berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia saat ini? Menurut informasi hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak punya pekerjaan, jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Atau Anda mengeluh karena jalanan sering macet saat Anda mengemudi, untuk hal ini ketahuilah bahwa ada jutaan orang yang tidak memiliki kendaraan pribadi seperti Anda.
Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ''Sinta, Sinta''. Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, ''Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Sinta'.' Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuni lain itu terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ''Sinta, Sinta". Orang ini juga punya masalah dengan Sinta? '' tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, '' Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu''.
Percayalah bahwa di balik semua hal yang kita sering keluhkan pasti ada hal yang dapat kita syukuri. Para ahli psikologi mengatakan "Sikap bersyukur adalah emosi yang tersehat". Seorang pakar stress bernama Hans Seyle juga berkata, "Sikap bersyukur menghasilkan energi emosional lebih daripada sikap yang lain dalam hidup ini". Yang menarik adalah Anda selalu dapat memilih dalam setiap kejadian yang dihadapi apakah Anda akan mengeluh atau bersyukur.
Ada cerita mengenai seorang pengusaha yang terbangun di sebuah rumah sakit dan istrinya yang setia sedang mendampinginya menjalani perawatan.
Pria ini berkata pada Istrinya, "Kamu tahu waktu pertama kali kita menikah usaha kita bangkrut dan Engkau ada di sisiku, setelah itu di tahun kedua pernikahan kita harta benda yang telah aku kumpul buat masa depan keluarga kita lenyap dicuri orang namun Kamu masih tetap setia menemaniku. Selanjutnya lagi saat rumah yang telah kita cicil mengalami kebakaran Engkau pun di sisiku juga. Melalui semua itu Kamu selalu di sisiku".
Istrinya menjawab, "Ya aku akan selamanya setia berada di sisimu suamiku dalam keadaan apapun".
Pengusaha ini berkata, "Sekarang aku terbaring lemah di rumah sakit, Kamu tetap ada di sisiku".
Ia menjawab, "Pasti, aku selalu bersedia ada di sisimu".
Kemudian pengusaha ini berkata lagi, "Makanya sekarang aku mulai berpikir bahwa kehadiranmulah yang menjadi pembawa semua kesialan ini".

Herannya ada orang-orang tertentu yang memang tidak paham bagaimana cara bersyukur dan orang-orang seperti ini kelihatannya tidak pernah dapat melihat sesuatu hal yang baik ataupun positif karena pandangannya cuma tertuju pada hal yang buruk.
Mulai ambil waktu untuk bersyukur setiap hari. Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda atau apapun yang dapat Anda syukuri. Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh.
Kalau semakin banyak kita bersyukur atas apa yang kita miliki, maka semakin banyak hal yang akan kita miliki untuk disyukuri. Berarti semakin banyak kita mengeluh atas masalah yang Anda alami, maka jangan heran jika rasanya semakin banyak masalah yang kita alami untuk dikeluhkan.
Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan tetapi lakukanlah hal berikut ini. Tutuplah mata Anda, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut Anda, buka mata Anda, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini.
Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh, coba beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan kembangkan sikap penuh syukur lalu lihatlah perubahan dalam hidup Anda.

sumber: haryantokandani.com
 
Read more > Berhenti Mengeluh : Mulai Bersyukur

Senin, 08 April 2013

Menjadi Mulia Tak Perlu Menunggu Kaya


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjv91NqxXH3oO_DH9iad-uuULlKEq2929Cl6-dG4_2b9OdKqrrNu0Y-m3xMaaW2oQYxcYLuZZjpHGpkVfGv4wgXihaqXxYQkJ8uNmKY1dO0Zti2miaVvVbX1C1mMWBoKlcK1FC4bPulbSk/s1600/img.php.jpg


Ini sebuah kisah nyata: ada dua orang wanita yang tinggal serumah. Keduanya selalu menyisihkan sebagian harta yang dititipkan Allah pada mereka dengan cara berinfak. Hal ini mungkin bukan sesuatu yang menarik untuk dibicarakan. Tetapi tunggu, ulama tersebut melanjutkan kisahnya.

Siapakah kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu? Mereka bukanlah anak dan ibu atau kakak beradik. Lalu, siapakah gerangan mereka? Keduanya tak lain adalah seorang majikan dan pembantunya.

Tanpa diketahui oleh masing-masing, sang pembantu selalu menyisihkan rezeki yang diperoleh setiap kali menerima gaji, demikian pula dengan sang majikan. Secara logika kita pastinya berfikir bahwa penghasilan sang majikan lebih besar dari sang pembantu, maka infaknya pun tentu akan lebih besar. Sang pembantu, berapalah ia mampu infakkan, apalagi harus berbagi dengan kebutuhan hidup dan biaya pendidikan anak-anaknya.

Namun, Allah mempunyai matematika lain. Dengan gaji tak seberapa plus dipotong infak, ia hidup cukup. Anak-anaknya bersekolah sampai jenjang tertinggi.

Tentu saja bagi orang beriman yang mengakui bahwa hanya Allah yang berkuasa memberi rezeki, tak kan pernah heran atau terlontar tanya seperti demikian. Karena sudah jelas tercantum firman-Nya dalam Alquran:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 261).

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka, dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.” (QS Al-Hadid: 18)

Demikianlah, Allah telah banyak menunjukkan salah satu contoh kekuasaan-Nya melalui kisah serupa. Sebagai sebuah pelajaran supaya cukuplah Allah tempat kita menyandarkan keyakinan sepenuhnya atas rezeki yang diberikan-Nya. Di samping itu kita tidak perlu merasa khawatir untuk bersedekah atau menginfakkan sebagian rezeki yang Allah titipkan tersebut karena janji Allah pastilah benar adanya. Kita pun tak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk berbagi rezeki demi mendapatkan kemuliaan di hadapan-Nya.

“.... Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS Al Hujuraat [49]:13).


sumber : Republika Online

 
Read more > Menjadi Mulia Tak Perlu Menunggu Kaya
 
 
Copyright © MXM BERBAGI INFO
Blogger Theme by Blogger Designed and Optimized by Tipseo