Senin, 01 April 2013

Tamak Merusak Hidup Berkah

harta ilmu1 150x150 Tamak Merusak Hidup BerkahImam Ali ra. pernah berkata, “Ada dua jenis manusia tamak yang tidak akan pernah merasa puas: pemburu ilmu dan pemburu harta.” Karena ketamakannya, kedua jenis manusia ini selalu ingin dan selalu berusaha untuk terus menambah apa yang telah mereka raih.

Tentu terpuji seorang Muslim yang tamak terhadap ilmu. Muslim seperti ini senantiasa menginginkan derajat yang tinggi di sisi Allah melalui pencariannya terhadap ilmu. Ia sangat sadar akan firman Allah Swt. (yang artinya): Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kalian beberapa derajat (QS al-Mujadilah [58]: 11).
Itulah yang selalu dilakukan oleh para ulama Islam pada masa lalu, khususnya pada masa kegemilangan Islam di era Kekhilafahan Islam, selama berabad-abad. Begitu tamaknya terhadap ilmu, tanpa mengenal lelah, para ulama dulu tidak jarang menyusuri berbagai negeri, meski mereka sering harus berjalan kaki bermil-mil jaraknya. Wajar jika pada masa itu, ulama yang mumpuni dengan keilmuannya luar biasa banyaknya. Sebagian mereka banyak yang menjadi mujtahid dan menguasai banyak cabang ilmu.
Para ulama itu pun selalu memanfaatkan segala kesempatan dan waktu luang untuk mengkaji Islam guna ikut memecahkan problem kehidupan umat manusia. Imam Syafii hanyalah salah satu contohnya.
Dalam sebuah riwayat, diceritakan bahwa Imam Syafii pernah bermalam di rumah Imam Malik, gurunya. Saat itu nama Imam Syafii sudah dikenal luas keulamaan dan kesalihannya hingga mengalahkan ketenaran Imam Malik. Penasaran dengan itu, putra Imam Malik mencoba mencari tahu mengapa pamor Imam Syafii nyaris mengalahkan ayahnya, Imam Malik.
Kesempatan pun datang. Saat Imam Syafii bermalam di rumah ayahnya, dan sudah masuk ke peraduannya, diam-diam putra Imam Malik ‘mengintip’ bilik kamar Imam Syafii. Berjam-jam ia mengamati Imam Syafii. Namun, yang ia saksikan hanyalah pemandangan biasa. Imam Syafii hanya tiduran di atas dipannya. Kedua telapak tangannya ia taruh di bawah kepalanya. Lalu pandangan matanya tertuju ke langit-langit kamarnya. Hanya itu yang dilakukan Imam Syafii hingga waktu subuh tiba. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada aktivitas membaca/mengkaji kitab atau menulis. Bahkan malam itu tidak ada salat malam yang dilakukan Imam Syafii, sebagaimana yang setiap malam dilakukan oleh Imam Malik, ayahnya. Demikian pikir putra Imam Malik.
Setelah salat subuh, putra Imam Malik menemui ayahnya, dan berkata, “Ayah, saya heran dengan Imam Syafii. Semua orang sepertinya mengagumi keulamaan dan kesalihannya. Ketenaran beliau bahkan sepertinya mengalahkan pamor ayah. Padahal semalaman saya mengamati beliau di kamarnya, tak ada sesuatu yang luar biasa yang beliau lakukan. Bahkan tidak ada salat tahajud seperti yang ayah lakukan setiap malam.”
Mendengar itu, sambil tersenyum Imam Malik menggandeng putranya untuk menemui Imam Syafii. Beliau kemudian bertanya kepada Imam Syafii tentang apa yang dilakukannya semalaman. Imam Syafii menjawab, “Alhamdulillah, semalam, baru saja saya berhasil memecahkan sekaligus meng-istinbâth hukum dalam 15 macam persoalan yang dibutuhkan umat.”
Demikianlah Imam Syafii. Kegiatan keilmuan sepertinya tidak pernah lepas dari setiap napas kehidupan beliau, sekalipun sering menyita waktu tidur dan istirahatnya.
*****
Jika tamak terhadap ilmu sangat terpuji, bagaimana dengan tamak terhadap harta? Tentu tercela. Ketamakan terhadap harta hanya akan menghasilkan sifat buas, laksana serigala yang terus mengejar dan memangsa buruannya, walaupun harta itu bukan haknya. Secara fitrah, manusia memang sangat mencintai harta-kekayaan dan berhasrat keras mendapatkannya sebanyak mungkin dengan segala cara. Allah Swt. berfirman (yang artinya): Katakanlah (Muhammad), “Seandainya kalian menguasai semua perbendaharaan rahmat Tuhan, niscaya perbendaharaan (kekayaan) itu kalian tahan (simpan) karena takut menginfakkannya (mengeluarkannya). Manusia itu memang sangat kikir.” (QS al-Isra’ [17]: 100).
Demikian Allah menggambarkan sikap tamak para pencari harta. Kisah tentang Qarun, yang diabadikan dalam al-Quran, hanyalah salah satu contohnya. Bagaimana ketamakan Qarun terhadap harta telah menjadikannya lupa bersyukur kepada Allah, bahkan kufur terhadap-Nya. Akibatnya, Allah membenamkan Qarun bersama seluruh harta yang ia bangga-banggakan ke dalam bumi (QS al-Qashash [28]: 76-81).
Anehnya, ‘Qarun-Qarun’ lain terus bermunculan hingga hari ini. Pada sebagian orang (pada sebagian pejabat dan wakil rakyat, sekadar contoh), sifat tamak demikian menonjol. Walau rata-rata mereka sudah kaya-raya, gaji mereka pun sebagai pejabat/wakil rakyat sudah sangat tinggi, korupsi tetap mereka jalani; suap tetap mereka terima; dan cara-cara haram untuk mengeruk kekayaan tetap mereka upayakan. Bahkan keinginan untuk tetap berkuasa—melalui Pemilu atau Pilkada—terus mereka perjuangkan meski harus mengeluarkan dana miliaran rupiah sebagai ‘modal’. Dengan itu, mereka berharap, saat mereka menjadi pejabat atau wakil rakyat, mereka tetap bisa terus menumpuk-numpuk harta-kekayaan; tak peduli halal-haram.
Padahal, sekalipun seseorang kaya-raya, tetap hanya beberapa suap saja makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya. Selebihnya, sebesar dan sebanyak apapun hartanya, ia tak akan pernah bisa membawanya saat ia mati dan dimasukkan ke liang lahat. Hati-hatilah dengan sikap tamak.
Karena itu, ada baiknya kita merenungkan kembali petuah Rasulullah saw. Sebagaimana dituturkan Mutharif, ayahnya pernah menemui Rasulullah saw. Saat itu Beliau sedang membaca surah “Alhâkumut-takâtsur”. Beliau kemudian bersabda, “Anak Adam selalu saja berseru, ‘Hartaku! Hartaku!’ Apakah kamu tidak sadar, bahwa hanya tiga hal saja yang menjadi milikmu: (1) apa yang kamu makan sampai habis; (2) apa yang kamu pakai hingga rusak; (3) apa yang kamu sedekahkan dan tetap kekal (dengan mendapat pahala di sisi Allah).” (HR Muslim).
Wamâ tawfîqi illâ billâh.
Read more > Tamak Merusak Hidup Berkah

Kendalikan Rasa Marah

marah 300x199 Kendalikan Rasa MarahSaat ini, sangat mudah orang mengumbar amarah. Sering karena hal sepele orang bisa marah. Tak jarang, rasa marah itu berujung pada pertikaian. Hanya karena senggolan motor, orang bisa marah. Hanya karena rebutan jalur saat mengendara, orang bisa melontarkan sumpah serapah. Hanya karena rebutan penumpang, antar kernet angkutan kota bisa saling caci-maki. Hanya karena sepakbola, antara pendukung masing-masing klub bisa saling tawuran. Saat jagonya dikalahkan dalam Pilkada, para pendukungnya tak sedikit yang kemudian melakukan kasi anarkis dan perusakan. Saat foto presidennya diinjak-injak, para pemujanya mengutuk habis-habisan.
Di sisi lain, saat Baginda Rasulullah SAW dihina, banyak Muslim diam seribu bahasa. Jangankan marah, tergetar hatinya pun tidak. Saat Alquran diinjak-injak oleh orang-orang kafir, tak sedikit Muslim yang adem-ayem saja. Jangankan marah, sedikit peduli pun tidak. Saat rutusan bahkan ribuan umat Islam di negeri lain dibantai, kebanyakan kita pun hanya mengelus dada. Saat tempat-tempat suci seperti masjid diledakkan, saat hijab Muslimah dilecehkan, kebanyakan kita pun tak tergerak untuk sakadar menunjukkan amarah. Bahkan pada saat sebagian umat marah dengan  melakukan demonstrasi mengutuk berbagai penodaan dan penghinaan simbol-simbol kesucian Islam dan kaum Muslim, ramai-ramai para penguasa atau pejabat negara berusaha meredam amarah umat tersebut, bahkan tak segan menghalangi dengan kekerasan para demonstran itu.
Islam sebagai agama yang sempurna tentu mempunyai aturan tentang marah. Marah bukan hanya boleh, bahkan harus, saat kehormatan Allah SWT dan Rasul-Nya dilanggar. Sebaliknya, marah justru dilarang jika didorong oleh sentimen etnis, kelompok, golongan atau kebangsaan (’ashabiyah) karena semua itu hanya bersumber dari hawa nafsu dan setan.
Kita harus meneladani Baginda Rasulullah SAW, kapan dan bagaimana beliau marah. Rasulullah SAW adalah manusia yang paling mampu mengendalikan dirinya dan paling bagus akhlaknya. Beliau adalah orang yang paling penyayang dan lembut. Sesungguhnya Nabi SAW  adalah orang yang lebih pemalu dari para gadis pingitan, jika melihat sesuatu yang beliau benci, akan diketahui dari wajahnya (HR al-Bukhari). Beliau pun menyatakan: Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat, namun orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah (HR al-Bukhari).
Abu Darda ra pernah menuturkan bahwa pernah ada seorang berkata kepada Nabi SAW, “Nasihatilah saya.” Rasulullah bersabda “Jangan marah1”. Orang itu mengulangi permintaannya,  Rasul SAW pun mengulang sabdanya, “Jangan marah!” (HR al-Bukhari).
Sikap marah mengantarkan seseorang untuk melakukan banyak keburukan, cacian,  umpatan dan  kata-kata kotor; bahkan pemukulan, perusakan fasilitas umum hingga melakukan tindak pembunuhan. Karena itu, menghindari marah sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW, hidup pemaaf dan berkasih-sayang terhadap sesama,  akan menghindarkan seseorang dari banyak keburukan dan kejahatan.
Namun dalam kondisi tertentu, Baginda Rasulullah SAW pun bisa marah, tentu semata-mata karena Allah SWT. Ada riwayat yang menyatakan: Sesungguhnya Nabi SAW tidak pernah marah terhadap sesuatu. Namun, jika larangan-larangan Allah dilanggar, ketika itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi rasa marahnya (HR al-Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits lain dinyatakan: Tidaklah Rasulullah SAW dihadapkan pada dua pilihan melainkan beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya selama tidak merupakan suatu dosa. Namun, bila sesuatu itu dosa, beliau adalah orang yang paling menjauh darinya. Tidaklah beliau membalas karena dirinya kecuali kehormatan Allah SWT dilanggar maka beliau pun marah (HR al-Bukhari).
Jabir ra menuturkan, “Rasulullah SAW,  bila marah, dua matanya berwarna merah, suaranya meninggi dan kemarahannya mengeras hingga seperti seorang komandan memperingatkan pasukannya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, dalam banyak hal kita pun harus marah, misal: saat kehormatan Islam dilecehkan, saat orang-orang kafir mengolok-olok Islam, saat orang-orang liberal mengacak-acak Alquran, saat para penguasa membuat UU yang bertentangan dengan Islam dan melakukan berbagai kezaliman, saat saudara-saudara sesama Muslim dihinakan bahkan dibantai tanpa belas kasihan, dsb. Dalam hal seperti ini kita bukan hanya boleh marah, bahkan harus marah. Jika mampu kita wajib mengubahnya dengan tangan (kekuasaan), atau dengan lisan (dakwah) atau dengan hati—meski itu menandakan iman yang paling lemah (HR Muslim). Jika dengan hati pun tidak bisa—adem-ayem dan acuh-tak acuh—maka bisa jadi tidak ada lagi keimanan yang tersisa. Na’udzu bilLah min dzalik.
Read more > Kendalikan Rasa Marah

Utamakan Sikap Terbaik

dakwah islam Utamakan Sikap TerbaikBilal ra., muadzin Rasulullah saw. pernah berkata, “Manusia itu ada tiga golongan: (1) Yang selamat (tapi tidak beruntung); (2) Yang beruntung; (3) Yang celaka. Yang selamat adalah orang yang diam. Yang beruntung adalah yang melakukan amar makruf nahi mungkar. Yang celaka adalah yang membicarakan yang sia-sia/yang buruk dan membantu orang zalim.” (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, XI/69).
Terkait kata-kata Bilal di atas, diam memang dianjurkan, yakni saat kita tidak bisa membicarakan kebaikan. Sebab, Baginda Rasulullah saw. sendiri pernah bersabda, “Katakanlah yang baik atau diam.” (HR al-Bukhari, Muslim, Malik, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad dan al-Baihaqi).
Dengan kata lain, diam lebih baik daripada membicarakan keburukan. Sebab, diam tidaklah berdosa, sementara membicarakan keburukan tentu berdosa. Dalam hal ini Baginda Rasulullah saw. bersabda, “Kebanyakan perbuatan dosa anak Adam itu terletak pada lisan (ucapan)-nya.” (Ath-Thabrani, Mu’jam al-Kabir, IX/45; as-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsur, III/243).
Lebih dari itu, membicarakan keburukan bisa berujung pada penyesalan. Abu Wa’il menuturkan bahwa Abdullah pernah naik ke Bukit Shafa. Lalu sembari memegang lidahnya ia berkata, “Wahai lisan, katakan yang baik, niscaya beruntung; atau diamlah dari membicarakan keburukan, niscaya selamat sebelum kamu menyesal.” (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, X/435).
Namun, saat dihadapkan pada suatu kemungkaran, sikap diam bukanlah sikap yang baik dan selamat. Sebab, Baginda Rasulullah saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran hendaklah mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu juga, dengan kalbunya dan itulah iman yang paling lemah.” (HR Muslim, Ahmad dan Ibn Majah).
Jelas, dalam hadis tersebut terdapat celaan, yakni selemah-lemahnya iman bagi orang yang berdiam diri terhadap kemungkaran. Bahkan ada Hadis Nabi saw. yang menerangkan bahwa orang yang berdiam diri dari menyatakan kebenaran adalah seperti setan bisu. Tentu, ini adalah analogi yang amat buruk. Selain itu, ada ancaman yang amat keras terhadap orang yang enggan melakukan amar makruf nahi mungkar. Baginda Rasulullah saw. bersabda, “Kalian sungguh-sungguh melakukan amar makruf nahi mungkar atau Allah akan menimpakan atas kalian siksaan dari sisi-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, tetapi Allah tidak mengabulkan doa kalian.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Baihaqi).
Jadi, sikap diam memang bisa selamat/menyelamatkan dibandingkan dengan membicarakan keburukan. Namun, saat dihadapkan pada kemungkaran, sikap diam bukanlah pilihan yang baik dan selamat. Sikap terbaik saat dihadapkan pada kemungkaran adalah melakukan dakwah dan amar makruf nahi mungkar. Allah SWT berfirman (yang artinya): Siapakah yang lebih baik ucapannya dibandingkan dengan orang yang menyeru kepada Allah (TQS Fushilat [41]: 33).
Allah SWT pun memerintahkan kepada kita agar selalu mengucapkan kata-kata yang benar/lurus, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Hai orang-orang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan nyatakanlah oleh kalian ucapan yang benar/lurus (TQS al-Ahzab [33]: 70).
Sebaliknya, Allah SWT dan Rasul-Nya telah melarang kita dari ucapan yang sia-sia, apalagi ucapan buruk yang mengandung kemaksiatan dan dosa, seperti melecehkan orang lain atau menjuluki orang lain dengan panggilan/gelar yang buruk. Allah SWT berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain karena boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya karena boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari meraka. Janganlah kalian suka mencela diri sendiri dan jangan memanggil orang lain dengan gelaran yang mengandung ejekan.
Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman (TQS al-Hujurat [49]: 11).
Contoh ucapan yang buruk yang lain adalah ghibah (menggunjing). Allah SWT berfirman (yang artinya): Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah sebagian kalian memakan daging saudaranya yang telah maninggal? Tentu kalian merasa jijik (TQS al-Hujurat [49]: 12).
Alhasil, marilah kita selalu memilih sikap terbaik, yakni menggunakan lisan kita untuk berdakwah dan melakukan amar makruf nahi mungkar serta saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Janganlah kita berdiam diri terhadap kemungkaran. Katakanlah yang benar dan baik saja. Jika tidak, lebih baik diam. Jangan sampai kita gunakan lisan kita untuk menyatakan yang sia-sia, menebar keburukan kepada sesama, apalagi untuk membantu kezaliman. Wa ma tawfiqi illa bilLah.
Read more > Utamakan Sikap Terbaik

Jika Dahlan jadi calon wakil presiden


Batam (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Harry Azhar Azis mengatakan peluang Dahlan Iskan untuk maju menjadi Wakil Presiden pada Pemilu 2014 lebih besar dibanding menjadi Presiden karena sejumlah partai besar sudah memiliki calon sendiri. 


"Potensi Dahlan menjadi Wakil Presiden (Wapres) untuk mendampingi calon Presiden dari partai-partai besar masih sangat terbuka. Namun untuk jadi presiden, peluangnya lebih kecil karena Dahlan hingga kini tidak memiliki partai," kata Harry di Batam, Minggu. 
Ia mengatakan, selama menjadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan cukup sukses melakukan pembenahan perusahaan serta memiliki perbedaan yang positif dengan menteri lain sehingga mampu menjadi salah seorang yang sangat diperhitungkan dan dianggap memiliki kemampuan menjadi pemimpin. 
"Dahlan dinilai lebih humanis, namun tetap tegas. Itu yang membuat dia disukai banyak orang sehingga namanya tetap berkibar. Bahkan survei juga menunjukkan dia salah seorang yang bisa menjadi calon Presiden alternatif," katanya. 
Menurut Harry, cara kepemimpinan seperti itu, tepat untuk BUMN sehingga pembenahan bisa lebih berjalan baik dan mampu mendongkrak kinerja perusahaan untuk negara. 
"Jika Dahlan serius untuk maju di Pemilihan Presiden mendatang, maka harus mencari partai atau menunggu partai yang belum memiliki calon untuk melamarnya," kata Herry. 
Ia mengatakan partai besar seperti Golkar, Hanura, Gerindra dan PAN sudah memiliki calon sendiri. Partai yang hingga kini belum menentukan calon presiden diantaranya Demokrat, Nasdem, PDIP, PPP, PKB. 
Terpisah, anggota DPD RI dari Kepri, Hardi S Hood mengatakan jika melihat dari kinerja Dahlan di BUMN maka Menteri BUMN tersebut patut diperhitungkan dalam pemilihan Presiden 2014. 
"Dari hasil survei, Dahlan memang memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin setelah sukses membangun BUMN dan melakukan perubahan besar," kata dia di Asrama Haji Batam. 
Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Kepri, yang juga Wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo, enggan menanggapi banyak soal kepemimpinan Dahlan di BUMN. 
Soerya hanya menyebutkan, untuk Pilpres, PDIP Kepri sudah memandatkan ke Megawati, untuk menentukan figur Calon Presiden dari partai tersebut. 
"PDIP Kepri telah memandatkan ke Megawati Soekarnoputri, menentukan siapa calon presidennya. Kami akan tunduk dan konsekuen untuk melaksanakan semua keputusannya," kata dia. (ar)


Read more > Jika Dahlan jadi calon wakil presiden
 
 
Copyright © MXM BERBAGI INFO
Blogger Theme by Blogger Designed and Optimized by Tipseo