Senin, 01 April 2013

Android Itu Linux?

Saya pertama kali mendengar Android sekitar tahun 2008. Waktu itu saya tidak begitu peduli apa itu Android, yang saya tahu Android adalah salah satu produk Google, lebih tepatnya sistem operasi yang dibuat untuk smartphone. Semenjak smartphone berbasis Android masuk ke Indonesia awal tahun 2010 lalu, rasanya peminat Android di Indonesia makin menggila :D

Kebanyakan pengguna Android tidak kesulitan menggunakan, memainkan, bahkan meng-custom smartphone mereka karena Android adalah sistem operasi yang user friendly. Namu kebanyakan dari mereka tidak tahu bahwa bahwa Android itu berbasis Linux. Dari sini saja sudah dapat diambil kesimpulan bahwa Linux sebenarnya mudah untuk digunakan. Lalu mengapa pengguna komputer di Indonesia lebih banyak (banget) yang menggunakan Ms Windows dari pada Linux? Jawabannya, menurut saya, adalah masalah “kebiasaan”!!!
 
Lalu apakah Android itu Linux dan Linux itu Android? Errr…mari kita kembali ke definisi dan sejarah Linux. Ada artikel bagus di detikinet, dalam bahasa Indonesia, yang dibuat oleh Ahmad Saiful Muhajir. Artikel tersebut menceritakan bahwa Linux merupakan salah satu komponen (penting) dari sekian banyak komponen yang membentuk sistem operasi GNU/Linux. Linux bukan sistem operasi, melainkan nama dari kernel sistem operasi. Sistem operasi yang seutuhnya adalah GNU, dan karena Linus Torvalds juga telah bekerja keras membuat kernel Linux yang digunakan GNU, maka sebutan yang benar untuk sistem operasi adalah GNU/Linux. Sekarang banyak distro sistem operasi (dengan kernel) Linux beredar seperti Debian, Red Hat, Slackware, dll. Distro-distro tersebut menggunakan kernel Linux dan program-program dari GNU, beserta (biasanya) puluhan ribu program tambahan. Semua pertanyaan dan jawaban kapan dan kenapa kita harus menyebut “GNU/Linux” dan kapan kita bisa menyebutnya hanya dengan “Linux” bisa kamu lihat di link ini. Saya sendiri lebih sering menyebutnya dengan Linux, apa lagi jika di obrolan santai :D
Kembali ke pertanyaan apakah Android itu Linux. Jawabannya menurut saya adalah iya, karena Android menggunakan Linux sebagai kernel-nya, namun juga bukan, karena Android adalah sistem operasi dan Linux adalah kernel, bagian dari sistem operasi. Jika kita menyebut Android adalah Linux, berarti sama dengan kita menyebut Debian adalah Linux, padahal Debian adalah varian dari GNU/Linux. Lalu kenapa orang-orang boleh menyebut Ubuntu sebagai Linux sedangkan Android tidak boleh disebut Linux?
Kesimpulan
Sebenarnya saya tidak ingin membuat pembaca artikel ini jadi bingung atau malah pusing. Saya hanya ingin memberikan ide dan sedikit sejarah dari GNU/Linux dan Android yang saya dapat dari berbagai sumber di internet. Intinya Android adalah sistem operasi yang dibuat dengan proses rumit dengan Linux sebagai kernel-nya. Pendapat orang-orang pasti bermacam-macam mengenai apakah Android pantas disebut sebagai Linux atau tidak, yang jelas Linux adalah bagian dari Android.


Sumber: 
Read more > Android Itu Linux?

Siapakah Pemilik Internet ?

Bayangkan anda berada pada sebuah ruangan yang penuh dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia, dan setiap orang berbicara dalam bahasa daerah mereka masing-masing. Untuk berkomunikasi, anda harus menyesuaikan dengan standar dan perbendaharaan kata tiap-tiap bahasa daerah. Itulah yang membuat internet sangat hebat. Sebuah sistem yang menjembatani komunikasi antar beberapa jaringan komputer yang berbeda dengan standar-standar rule tertentu. Tanpa rule-rule tersebut, maka komputer-komputer itu tidak akan dapat berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya.
Mari kita renungkan sejenak tentang besarnya jangkauan internet. Internet adalah sekumpulan dari beberapa jaringan komputer yang saling terhubung di seluruh belahan bumi. Hal ini bergantung pada beberapa set rules yang disebut dengan protocol. Protokol inilah yang menghubungkan komunikasi antar komputer walaupun dari jaringan komputer yang berbeda.
Ini adalah sebuah sistem global yang sebenarnya. Kabel-kabel yang membentang melewati berbagai belahan dunia, menyusuri bawah laut, lintas negara, dan menghubungkan antar benua. Dan internet terus berkembang. Semakin banyak komputer yang terhubung dengan internet sampai dengan saat ini. Beberapa perusahaan dan organisasi berusaha untuk memperluas akses internet ke negara-negara yang belum terhubung dengan jaringan internet.
Internet adalah sebuah sistem besar yang terdiri dari beberapa kumpulan sistem-sistem kecil. Jika ini adalah sebuah sistem, apakah internet dipunyai oleh seorang pemilik? apakah ada sekumpulan orang atau entitas yang mengontrol internet? apakah mungkin seseorang dapat memiliki sesuatu yang terbentang di seluruh penjuru dunia dan dasar laut?
Jadi, siapakah sebenarnya pemilik Internet? Ada dua jawaban untuk pertanyaan ini, yaitu : tidak ada seorangpun, dan, internet dimiliki oleh banyak orang. Jika anda berpikir bahwa internet adalah sebuah kesatuan, maka jawabannya adalah tidak ada seorangpun sebagai pemilik dari internet. Memang benar ada beberapa organisasi yang menentukan struktur dan cara kerja dari internet, namun mereka bukanlah pemilik internet itu sendiri. Tidak ada satu pemerintahan atau perusahaan yang berhak mengklaim dirinya sebagai pemilik internet.
imgsource : tomizone

Dari sudut pandang yang lain, ribuan orang dan perusahaan adalah pemilik internet. Internet banyak keping dan bits, dan setiap keping dan bits mempunyai pemilik tersendiri. Beberapa pemilik-pemilik ini dapat menentukan level akses anda untuk internet. Mereka mungkin bukan sebagai pemilik dari seluruh sistem, namun mereka akan berpengaruh pada kegiatan berinternet anda.
Jaringan fisik yang membawa traffic internet antar beberapa sistem komputer disebut dengan Internet Backbone. Dewasa ini, ARPANET adalah sistem backbone-nya. Dan saat ini, perusahaan-perusahaan besar menyediakan kabel dan router untuk membuat internet backbone. Perusahaan-perusahaan ini merupakan pusat Internet Service Provider (ISP). Artinya, siapapun yang ingin terhubung ke internet pada akhirnya harus bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan tersebut. Beberapa perusahaan-perusahaan pusat ISP antara lain: Verizon, AT&T, IBM.
Lalu bermunculan ISP-ISP kecil. Banyak orang dan perusahaan yang kini terhubung dengan ISP-ISP kecil yang bukan termasuk dari internet backbone. ISP-ISP kecil tersebut bernegosiasi dengan pusat ISP untuk layanan akses internet.
Dibawah backbone terdapat Internet Exchange Points (IXP), yang merupakan koneksi fisik antar jaringan yang mengijinkan adanya pertukaran data. Contohnya, AT&T, Sprint, Verizon adalah bagian dari perusahaan yang menyediakan infrastruktur internet backbone. Tiga jaringan ini tidak saling terhubung, namun mereka terkoneksi bersama di IXP.
IXP.
Imgsource : thingsfinder

Jaringan komputer individu yang tergabung dalam internet mempunyai pemilik sendiri-sendiri. Setiap ISP dan instansi pemerintahan mempunya jaringan tersendiri. Beberapa perusahaan memiliki Local Area Network (LAN) yang tersambung kedalam internet. Banyak perusahaan memiliki jaringan lokal / Local Area Network (LAN) yang tersambung ke Internet. Masing-masing jaringan tersebut adalah bagian dari internet namun juga sebagai suatu entitas tersendiri. Pemilik-pemilik dari jaringan tersebut dapat menentukan level akses pengguna internet sesuai dengan ketentuan hukum di suatu wilayah tertentu.
Anda mungkin saja menganggap diri Anda menjadi pemilik Internet. Apakah Anda memiliki perangkat yang anda gunakan untuk terhubung ke Internet? Jika demikian, itu berarti Anda memiliki perangkat yang menjadi bagian dari sistem antar-jaringan besar. Anda adalah pemilik sebuah bagian dari internet, walaupun itu hanya sebagian yang sangat kecil saja.
Jika tidak ada seorang pun yang menjadi pemilik internet, lalu siapakah yang dapat memastikan internet bisa berjalan dengan lancar?
Seperti disebutkan sebelumnya, Internet bekerja karena sistem aturan yang disebut protokol. Dengan mengikuti protokol, komputer dapat mengirimkan informasi melalui jaringan komputer satu ke jaringan komputer yang lain. Jika tidak ada protokol, maka tidak akan ada jaminan bahwa informasi yang dikirim dari satu jaringan komputer dapat dipahami oleh jaringan komputer yang lain, atau bahkan tidak dapat sampai tepat tujuan.
Seiring dengan berkembangnya internet, protokol juga harus berubah. Itu berarti seseorang harus bertanggung jawab atas aturan-aturan tersebut. Ada beberapa organisasi yang mengawasi infrastruktur Internet dan protokol. Mereka adalah:
  1. The Internet Society: Sebuah organisasi nirlaba yang mengembangkan standar internet, kebijakan dan pendidikan.
  2. Internet Engineering Task Force (IETF): Sebuah organisasi internasional dengan kebijakan keanggotaan terbuka yang memiliki beberapa kelompok kerja. Setiap kelompok kerja berkonsentrasi pada topik tertentu, misalnya keamanan internet. Secara kolektif, kelompok-kelompok ini bekerja untuk mencoba mempertahankan arsitektur dan stabilitas internet.
  3. Internet Architecture Board (IAB): Sebuah komite IETF, misi IAB adalah untuk mengawasi desain protokol dan standar internet.
  4. The Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) : ICANN adalah sebuah lembaga nirlaba swasta yang mengelola Nama Domain Name System (DNS). ICANN bertanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap nama domain dapat terhubung ke alamat IP yang benar.
The Internet Society dan IETF adalah organisasi keanggotaan terbuka. Keduanya menyambut baik partisipasi dan masukan dari para pakar internet. Merekalah yang menentukan cara kerja dan perkembangan internet.
ICANN, di sisi lain, adalah organisasi swasta. Sifat eksklusif ICANN menuai keprihatinan banyak pihak. Mereka berpendapat bahwa ICANN memegang banyak kekuasaan atas siapa saja yang ingin mendaftarkan nama domain. Komersialisasi ICANN  melalui akreditasi vendor yang disebut dengan pendaftar. Pendaftar ini kemudian menjual nama domain untuk konsumen dan bisnis. Jika Anda ingin mendaftarkan nama domain yang spesifik, pada akhirnya ICANN-lah yang memutuskan apakah Anda bisa memilikinya atau tidak.
Sementara tidak satupun dari organisasi – organisasi tersebut yang menjadi sebagai pemilik tunggal internet, namun mereka saling mempengaruhi bagaimana Internet bekerja. Internet tidak memiliki pemilik pusat atau pemilik tunggal. Sementara strukturnya tetap dirancang dan dipelihara secara hati-hati, sedangkan konten aktual di Internet berkembang terus dan menjadi liar di dunia maya yang sama-sama kita tahu dan kita cintai ini. :)

NB : Diterjemahkan dengan sedikit penyesuaian dari howstuffworks. Semoga bermanfaat dan semakin memudahkan dalam pemahaman konteks tulisan.
Read more > Siapakah Pemilik Internet ?

Sombong: Mewarisi Sifat Iblis


setan sombong 150x150 Sombong: Mewarisi Sifat IblisDisadari ataupun tidak, sering atau jarang, banyak atau sedikit, sikap sombong kadang menghinggapi kalbu seorang Muslim. Tak sedikit Muslim yang menyombongkan diri-atau paling tidak merasa bangga-karena kegantengan/kecantikan fisiknya, kecerdasan otaknya, kebaikan keturunannya atau keberlimpahan hartanya. Mereka lupa bahwa semua itu bukan miliknya, tetapi milik Allah SWT yang kebetulan Dia titipkan kepada dirinya. Tentu aneh kalau orang merasa bangga dan menyombongkan diri atas milik Allah SWT yang kebetulan Allah titipkan kepada dirinya. Sama anehnya saat orang membanggakan diri dan bersikap sombong atas milik orang lain-misal: rumah, mobil, perhiasan, uang atau harta lain-yang kebetulan dititipkan kepada dirinya. Persis seperti tukang parkir yang merasa bangga dan menyombongkan diri saat banyak orang menitipkan mobilnya-termasuk mobil-mobil mahal dan mewah-kepada dirinya di tempat parkir mobil yang juga bukan miliknya.

Karena itu, sikap sombong dan membanggakan diri adalah sikap yang diharamkan Allah SWT. Allah SWT berfirman (yang artinya): Janganlah kalian berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan (TQS al-Isra’ [17]: 37).
Allah SWT pun berfirman (yang artinya): Itulah kampung akhirat yang Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di muka bumi dan tidak pula membuat kerusakan. Akibat kebaikan itu adalah bagi kaum yang bertakwa (TQS al-Qashash [28]: 83).
Sombong (al-kibr) hakikatnya adalah sikap merendahkan orang lain sembari ‘meninggikan’ diri sendiri. Sombong kepada Allah SWT adalah kufur karena dengan itu ia tidak akan menaati Allah SWT dan menjalankan perintah-Nya. Siapa saja yang meninggalkan perintah Allah SWT atau melanggar larangan-Nya karena menyepelekannya adalah kafir. Adapun orang yang meninggalkan perintah Allah SWT dan melanggar larangan-Nya bukan karena menyepelekannya, tetapi karena dikuasai syahwat atau bersikap lalai, maka dia berarti bermaksiat.
Sementara itu, bersikap sombong kepada manusia-jika tanpa disertai maksud merendahkan syariah-Nya-adalah juga tindakan maksiat. Namun, jika seseorang merendahkan para nabi, malaikat atau para ulama karena muncul dari sikap merendahkan ilmu (Allah) maka dia pun bisa jatuh pada kekafiran (Lihat: Muhammad ‘Alan, Dalil al-Falihin, III/53).
Karena itu, tindakan merendahkan Baginda Rasulullah SAW, melecehkan Alquran dan mencampakkan hukum-hukum Allah, misalnya, jelas termasuk ke dalam tindakan sombong yang tidak bisa ditoleransi. Dalam hal ini, Baginda Rasulullah SAW, sebagaimana dituturkan oleh Abdullah bin Mas’ud ra, pernah bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam kalbunya ada sikap sombong meski sebesar biji sawi.”
Seorang sahabat kemudian berkomentar, “Bagaimana jika seseorang menyukai pakaiannya tampak bagus, demikian pula alas kakinya (apakah termasuk sombong,pen.)?” Beliau kemudian menjawab, “Sesungguhnya Allah Mahaindah dan menyukai keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan cenderung merendahkan orang lain.”(HR Muslim).
Jika menolak kebenaran saja terkategori sebagai sikap sombong, apalagi melecehkan Baginda Rasulullah SAW, Alquran atau hukum-hukum Allah SWT sebagai sumber kebenaran sejati.
Jika orang-orang sombong tidak akan masuk surga, artinya mereka bakal masuk neraka. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Maukah kalian aku beritahu penduduk neraka? (Yaitu) Setiap orang yang kejam, kasar dan sombong.” (HR Mutaffaq ‘alaih).
Bukan saja tercela, kesombongan juga amat dibenci Allah SWT. Dalam hadits qudsi, bahkan Allah SWT menyampaikan ancaman keras terhadap orang-orang yang sombong. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman: Kebesaran adalah pakaian-Ku dan kesombongan adalah jubah-Ku. Siapa saja yang merampas semua itu dari diri-Ku, Aku pasti akan mengazab dirinya.” (HR Muslim).
Lebih dari itu, orang sombong pada dasarnya mewarisi sikap iblis. Pasalnya, Iblislah yang pertama kali menunjukkan kesombongannya saat dia enggan memenuhi perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Adam as. Alasan iblis, Adam diciptakan dari tanah, sementara dia dari api, dan dengan itu dia merasa lebih mulia dan terhormat daripada Adam AS. (Lihat: QS al-A’raf [7]: 12; Shad [38]: 76). Dengan demikian siapapun yang menolak perintah Allah SWT atau tidak mau tunduk-patuh pada syariah-Nya dan berhukum dengan hukum-hukum-Nya pada dasarnya adalah orang-orang yang mewarisi kesombongan iblis.
Lalu bagaimana dengan manusia zaman kini yang sombong dengan tidak hanya menolak hukum-hukum Allah SWT, tetapi bahkan lewat sistem demokrasi yang mereka terapkan-yang memberikan kepada diri mereka kewenangan membuat hukum sendiri-seraya menistakan dan mencampakkan hukum-hukum Allah SWT?! Tentu mereka telah melampaui sifat-sifat Iblis. Na’udzu bilLahi min dzalik!
Read more > Sombong: Mewarisi Sifat Iblis

Menabung Pahala

menabung Menabung PahalaMenabung terlanjur dianggap sebagai aktivitas yang positif, bahkan ‘fullpositif’. Mungkin amat langka orang menyebut aktivitas menabung sebagai tindakan negatif. Bahkan banyak orangtua Muslim (mungkin juga sebagiannya para aktifis dakwah) yang mulai mengajari anak-anaknya menabung sejak kecil. Mengapa? Tentu karena menabung dianggap sebagai bagian dari sikap baik. Sikap ini nyaris tanpa cela di mata kebanyakan orang hanya karena menabung identik dengan gaya hidup hemat, sementara hemat biasanya dilawankan dengan kata boros. Karena itu, anak-anak diajari sedari dini aktivitas menabung di rumah, di sekolah, di koperasi atau mungkin di bank. Tak jarang, orangtua begitu bangga jika putranya bisa mengumpulkan banyak uang dalam celengannya di rumah. Guru begitu riang jika dalam catatan buku tabungan anak-anak didiknya tertera angka-angka nominal yang besar. Mereka amat bangga jika di rekening putra-putrinya di bank tercatat angka-angka nominal yang banyak.
Anak-anak tentu akan lebih riang-gembira dan bangga saat menunjukkan hasil tabungannya yang banyak kepada orangtua atau gurunya. Bahkan mungkin tabungan itu akan ia pamerkan kepada teman-temannya. Tentu—namanya anak-anak—sering tidak terlalu memperhatikan bahwa di sekelilingnya mungkin banyak teman-temannya yang tidak seberuntung dirinya; jangankan untuk menabung, bahkan sekadar jajan alakadarnya pun mungkin sering gak punya.
Karena terlanjur dianggap ‘full positif’, tak jarang orangtua seperti gak rela saat suatu waktu, misalnya, anaknya ternyata menghabiskan uang jajannya untuk mentraktir teman-temannya sekadar untuk menyenangkan hati mereka atau sebagai bentuk solidaritas sesama teman. Tindakan itu kadang dianggap royal dan boros. Betulkah?
*****
Suatu ketika, Baginda Nabi Muhammad saw. menghampiri lemari Bilal bin Rabbah ra. yang di dalamnya disimpan harta sedekah. Saat dilihat, di lemari tersebut terdapat seonggok kurma. Beliau bertanya, “Kurma apa ini, Bilal?”
“Ya Rasulullah, itu adalah kurma yang saya simpan sebagai persediaan untuk engkau,” jawab Bilal.
“Apakah engkau merasa aman sampai pagi, sementara di lemari itu terdapat asap neraka Jahanam? Cepat, infakkan segera kurma itu! Janganlah engkau khawatir, Zat Pemilik ‘Arsy akan memenuhi kekurangan dan kebutuhan,” tegas Baginda Nabi saw. (HR Ibn Syihab).
Wajar saja jika kemudian, saat Bilal ditanya oleh Abdullah bin Luhay al-Huzni, berapa belanja Rasulullah saw., Bilal menjawab, “Beliau tidak memiliki apa pun. Akulah yang mengurusi beliau sejak diutus hingga beliau wafat. Jika beliau melihat seorang Muslim yang tidak memiliki pakaian yang layak, maka beliau menyuruh aku mencari pinjaman, lalu membelikan untuk dia pakaian, kemudian memakaikan pakaian itu kepada dia, sekaligus memberi dia makan.” (HR Ibn Hibban).
Dalam riwayat lain, Uqbah ra. bertutur: Aku pernah shalat ashar di belakangBaginda Nabi saw. di Madinah. Setelah mengucapkan salam, tiba-tiba beliau segera berdiri, kemudian berjalan cepat melewati pundak orang-orang untuk memasuki salah satu bilik istri beliau. Orang-orang pun menyingkir karena begitu terburu-burunya beliau. Lalu beliau segera keluar dan kembali ke hadapan mereka yang sedang terheran-heran. Beliau lalu bersabda, “Aku tadi teringat akan emas, sementara aku tidak suka menyimpannya. Karena itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan.” (HR al-Bukhari).
Ummu Salamah ra. juga pernah bertutur, “Baginda Nabi saw. pernah memasuki tempat tinggalku dengan rona wajah yang muram. Karena khawatir beliau sakit, aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, mengapa wajahmu tampak muram?’ Beliau menjawab, ‘Gara-gara tujuh dinar yang kemarin kita terima, sementara hingga sore hari, uang itu belum juga diinfakkan.’” (HR Ahmad dan Abu Ya’la).
Saat menyertai Baginda Nabi saw. hijrah ke Madinah, Abu Bakar ra. membawa seluruh hartanya sebanyak lima atau enam ribu dirham (setara Rp 350 juta atau Rp 420 juta) untuk diinfakkan di jalan Allah SWT (HR Ibn Ishaq). Utsman ra. pernah menginfakkan hartanya sebanyak 1000 dinar (setara Rp 2,25 miliar) saat Baginda Nabi saw. sedang mempersiapkan pasukan (HR al-Hakim; Al-Bidayah, II/179). Abdurrahman bin Auf ra. pernah menginfakkan separuh hartanya; itu belum termasuk tambahan sebanyak 40 ribu dinar (setara Rp 90 milar), 500 ekor unta dan 500 ekor kuda (HR Ibn al-Mubarak; Al-Ishabah, II/416). Hakim bin Hizam ra. pernah menjual tanahnya seharga 200 ribu dirham (setara Rp 14 miliar), yang semuanya diinfakkan di jalan Allah SWT (HR ath-Thabrani).
Demikianlah, mereka baru sejumlah kecil dari para Sahabat Nabi saw. yang mulia dalam menginfakkan harta-harta mereka. Sangat jarang diriwayatkan, bahwa mereka rajin menabung dan menumpuk-numpuk harta. Tentu, karena mereka adalah pengikut sejati Baginda Rasulullah saw. yang telah memberikan teladan bagaimana seharusnya memperlakukan harta.
*****
Jadi, bolehkah menabung? Tentu tidak dilarang selama ada keperluan. Persoalannya, bagaimana jika tidak ada keperluan? Lebih utama mana, antara menabung harta saat tak ada keperluan dengan menginfakkan harta itu di jalan Allah SWT? Lebih afdhal mana menabung di bank dibandingkan dengan ‘menabung’ untuk kepentingan akhirat?
Lebih dari itu, masihkah kita perlu mengajari anak-anak kita menabung ketimbang mendidik mereka untuk gemar berinfak di jalan Allah SWT? Masihkah kita—sadar atau tidak—menanamkan kecintaan terhadap harta pada anak-anak kita dengan terus mendorong mereka untuk gemar menabung, sementara kadang mereka tidak memerlukan harta tabungan itu? Jika alasannya untuk berjaga-jaga, tidakkah berjaga-jaga untuk kepentingan akhirat jauh lebih layak daripada berjaga-jaga untuk kepentingan dunia?
Jadi, salahkah menabung? Tidak juga. Namun, tentu ‘menabung’ untuk kepentingan akhirat, itulah sejatinya yang lebih layak kita lakukan dan kita ajarkan kepada anak-anak kita. Mulailah dengan memberi mereka contoh secara langsung dengan cara membiasakan diri dengan memperbanyak infak di jalan Allah SWT. Itulah sejatinya ‘tabungan’ kita yang hakiki dan abadi, yang pasti akan kita jumpai kembali di akhirat nanti.
Wama tawfiqi illa bilLah wa ‘alayhi tawakaltu wa ilayhi unib.
Read more > Menabung Pahala
 
 
Copyright © MXM BERBAGI INFO
Blogger Theme by Blogger Designed and Optimized by Tipseo